This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 23 Maret 2015

Sejarah



SEJARAH SINGKAT DESA PUCANGARUM

Sekitar tahun 1512 kerajaan Majapahit mengirimkan Dahyang untuk membuat cikal bakal desa Pucangarum, ketika itu penebangan hutan yang pertama dipimpin oleh Darmawongso yang memulainya disebelah Selatan. Kemudian dilanjutkan ke wilayah tengah yang dipimpin Sengkeni, setelah selesai dilanjutkan sampai ke wilayah utara bagian tengah sampai bagian barat yang dipimpin Arifin, karena berjalan dengan lancer beliau mengatakan “lolos ora ono sandupoyo opo-opo” yang artinya Sukses tanpa ada halangan suatu apapun sehingga kelompok tersebut dinamakan kelompok Losari. Kemudian setelah itu dilanjutkan ke wilayah utara bagian timur yang dipimpin oleh Shofiyah sampai selesai, setelah selesai mereka bermusyawarah untuk memberi nama kelompoknya, karena disitu ada pohon Jambe yang sangat besar langsung saja mereka merujuk menjadikan nama pohon tersebut untuk menjadi nama kelompoknya, sehingga kelompok tersebut diberi nama kelompok “Pucang” yang diambil dari nama sebuah pohon tersebut yang diambil dari nama bahasa jawa.

Dari sini sudah ada tiga kelompok yaitu Kelompok Losari, Kelompok Pucang dan Kelompok Selatan yang belum mempunyai nama, dari ketiga kelompok ini ingin dijadikan satu wadah atau satu kelompok besar dan satu yang memimpin, oleh karena itu diadakan musayawarah besar-besar yang bertempat di kelompok Pucang yang cuman dihadiri semua warga dari kelompok Losari dan Pucang sedangkan kelompok Selatan tidak menghadiri musyawarah tersebut, walaupun demikian musyawarah tetap dilaksanakan dan msih sulit untuk menentukan nama kelompok besar tersebut. Ditengah-tengah musyawarah tiba-tiba dikejutkan dengan jatuhnya bunga jambe yang baunya sangat harum sehingga membuat penasaran, karena digegerkan dengan jatuhnya bunga jambe yang sangat harum sehingga musyawarah berhenti sejenak, dari ini salah seorang dari kelompok Selatan mendengar kalau di Pucang ada bunga Jambe yang baunya sangat harum sehingga membuat warga kelompok Selatan berlarian dan berbondong-bondong menuju Pucang untuk melihat Bunga Jambe yang sangat harum, sesampainya disitu salah seorang dari kedua kelompok tersebut ada yang bilang “Ooooo Tibakne Wong Kidul Iku Gendandapan”, mendengar ucapan tersebut langsung diambil kesimpulan dan dijadikan nama untuk kelompok Selatan Yaitu kelompok “Randap” wonge podo gendandapan. Dari sini sudah terbentuk nama-nama ketiga kelompok tersebut yaitu, Losari, Pucang dan Randap.

Kemudian musyawarah dilanjutkan kembali dan mengambil sebuah kesimpulan karena ada Pohon Jambe yang sangat Besar dan bunganya harum, ada yang bilang kalau begitu kita beri nama Pucang Wangi, mendengar nama Pucangwangi salah satu dari mereka ada yang berpendapat kalau pucangwangi terlalu mencolok bagaimana kalau kita beri nama Pucangarum, setelah mendengar dan berpikir mengenai nama Pucangarum akhirnya semua warga setuju dan sepakat untuk memberi nama PUCANGARUM yang diambil dari nama Pohon Jambe dan Bunganya yang harum.

Dari sini ketiga kelompok tersebut dijadikan dalam satu wadah atau satu kepengurusan/kepemimpinan dengan nama kelompok besar yaitu “PUCANGARUM”.

Sabtu, 21 Maret 2015

Struktur pengurus KIM

Struktur Pengurus KIM"




Pengurus  Kelompok Informasi Masyarakat  "Pucanganom"

Pembina          
Pendamping      
Ketua      
Wakil ketua   
Sekretaris    
Bendahara          
:
:
:
:
:
:
Sanawi
Abdul Khohir
Umi Atun
Nikmatul Iza
M. Hadi Sutrisno
Nur Shoimah

Bidang-Bidang 

Bidang Umum dan Organisasi        
Bidang Sarana dan Prasarana            
Bidang Pengumpulan Informasi        
Bidang Pengelolaan Informasi          
Bidang Penyebaran Informasi        
:
:
:
:
:
Dwi Agustina
Ikuh Riawan
Ayu Meitatina
M.Sholihul Huda
Cicin Anzelina Alafia


“NEW REDIFA” ORKES HASIL KREATIVITAS ANAK DESA”



“New Redifa” adalah Orkes yang didirikan putra daerah Pucangarum, berdiri sejak tanggal 09 mei 2013, dengan anggota 6 personil, antara lain mex di Bas, Ozi di gitar, Rizal di melodi, Ucup di Keyboard, udin di Suling, Sihab di Tamborin, dan  Yakup di kendang.
Menurut penuturan Rizal, salah satu personil “New Redifa”, Orkes ini berdiri berawal dari mereka sering kumpul, dan mempunyai hobi  yang sama yaitu bermusik, sehingga mereka berinisiatif membentuk sebuah orkes. “Dulu ayah saya mempunyai orkes, karena darah seni yang mengalir, membuat saya ingin meneruskan bakat ayah saya sebagai pemusik,” tambah Rizal.

Dukungan keluarga sangat berperan penting bagi  berkembangnya “New Redifa”, Rizal menambahkan awal berdirinya “New Redifa” perjuangan yang dilalui sangat berat, untuk membeli alat, ke-6 personil memutar otak mencari pinjaman, namun tidak ada yang bersedia meminjami, dan akhirnya mereka harus merelakan Handphone kesayangan di jual untuk membeli peralatan.
Namun kini perjuangan mereka membuahkan hasil, Kepala Desa serta masyarakat Pucangarum sangat mengapresiasi kreatifitas mereka, terbukti banyak kegiatan Desa yang melibatkan “New Redifa” sebagai pengisi acara, dan ketika mempunyai hajat masyarakatpun antusias mengundangnya.

Jam terbang “New Redifa” kini semakin tinggi, selain tampil di Pucangarum, Desa tetangga juga sering mengundang “Redifa”, bahkan sampai luar Kecamatan. Orkes “Redifa” mematok tarif Rp. 3.000.000 setiap kali manggung dengan 4 biduan, tarif yang tergolong rendah, Rizal menambahkan meski ongkos sangat murah, jangan di ragukan kemampuan para personil, Rizal berharap orkes “Redifa” semakin berkembang, dan di kenal banyak orang.

PELEPAH PISANG SUMBER PENGHASILAN WARGA PUCANGARUM SELAIN BERTANI


Kerajinan pelepah pisang, menjadi sumber pendapatan warga Pucangarum, selain  mengandalakan dari hasil panen disawah, seperti diketahui mayoritas penduduk Pucangarum bekerja sebagai petani, mereka menggantungkan hidup dari hasil panen padi. Letak Desa pucangarum yang berada di dekat aliran sungai bengawan solo, membuat warga masyarakat hanya bisa menanam padi, apabila sungai bengawan solo meluap dan banjir melanda, sudah pasti mereka akan gigit jari karena sawah yang diharapkan terendam banjir




 Tepatnya tahun 2000, Kasmuri salah satu warga Pucangarum diperkenalkan oleh temanya dari Kota Gresik dengan pelepah pisang. Kasmuri diajari cara mengolah pelepah pisang menjadi untaian tali-tali yang  selanjutnya akan diolah menjadi aneka kerajinan, tidak hanya diajari cara  mengolah, Kasmuri pun diajari cara membuat alat sederhana untuk menganyam tali.
“pelepah pisang sangat membantu perekonomian kami,awalnya  hanya saya yang membuat kerajinan ini,  kemudian  saya mencoba mengajak tetangga, akhirnya mereka merasakan manfaat dari pelepah pisang itu sendiri,dan kini hampir seluruh warga pucangarum membuat kerajinan ini” ujar Kasmuri yang merupakan pelopor pembuat pelepah pisang
Seiring berjalannya waktu, Kasmuri mencoba menciptakan alat modern untuk menganyam pelepah pisang, dan terciptalah alat canggih dioperasikan dengan dynamo, banyak warga yang memesan alat kepadanya, Anyaman tali pelepah pisang dihargai Rp. 3000,00/Kg oleh tengkulak, menurut Kasmuri dulu warga kesulitan menjual hasil tali pelepah pisang, namun kini banyak tengkulak yang memasok tali pelepah pisang dari pucangarum, tali-tali tersebut berikutnya dikirim ke Gresik dan Cirebon, sebagai bahan baku pembuat kursi, tas, dan lain-lain.
Bahan baku pelepah pisang yang sangat mudah dipasok, sangat menguntungan warga pucangarum, selain mencari sendiri, warga biasa membeli bahan baku pelepah pisang kepada tengkulak dengan harga Rp. 2200,00/Kg, Pelepah pisang yang merupakan sampah , namun sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup warga Pucangarum.
Kasmuri berfikir untuk mengolah tali-tali pelepah pisang menjadi produk, sehingga pendapatan warga akan lebih banyak,  namun keterbatasan SDM dan kesulitan memasarkan produk, menjadi hambatan baginya. Harapan Kasmuri, Semoga kedepan Industri rumahan ini mampu tumbuh menjadi sebuah usaha besar.
 

STUDI BANDING SD NEGERI 2 PUCANGARUM TANAMKAN SIKAP PEDULI TATANAN PEMERINTAH DESA

Kamis (12/3/2015) Siswa SD Negeri 2 Pucangarum melaksanakan studi banding,  di Pendopo Desa Pucangarum Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro, didamping oleh Musta’in, selaku Guru pendamping. Siswa –siswi yang duduk di kelas 6 ini, terlihat sangat antusias mendengar penjelasan dari Bapak Sanawi selaku Kepala Desa Pucangarum.

Bapak Kepala Desa Pucangarum yang didampingi para staf kelurahan, menyambut ramah kedatangan para siswa. Banyak hal yang ditanyakan oleh para siswa, terkait pemerintahan dan pembangunan Desa, Bapak Kades menjelaskan dengan runtut semua pertanyaan dari para siswa, mulai dari program pembangunan desa jangka pendek, hingga jangka panjang. Senyum tak hentinya terlihat dari wajah para siswa, menurut Bapak Kades,  beliau sangat bangga karena  anak kecil sudah peduli dan ingin tahu terkait program - program Pemerintahan Desa.
Bapak Musta’in mengatakan “ studi banding ini dilaksanakan terkait mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, diharapkan  siswa mampu  memahami tatanan pemerintahan, terutama pemerintahan Desa yang dekat dengan mereka, serta menanamkan sikap peduli terkait pembangunan pemerintahan, mulai pemerintahan Desa hingga Negara”.

“Saya sangat senang dengan adanya studi banding ini, dari sini saya tahu tatanan pemerintahan Desa, dan paham tentang pembangunan Desa jangka Pendek dan jangka panjang,” ucap Rizaludin salah satu siswa.